Rinto Taib (Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Ternate)
TERNATE, DM- Bagi sebagian orang, birokrasi hanyalah rutinitas administratif. Namun, bagi Rinto Taib, S.Sos., M.Si., Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Ternate, birokrasi adalah jalan pengabdian untuk merawat jejak sejarah dan menghidupkan kembali kejayaan kebudayaan Ternate.
Lahir di Ternate. Dan memulai pendidikan dasar di Gane Barat, Halmahera Selatan, perjalanan pendidikannya dimulai dari SD Negeri Balitata (1990), dilanjutkan di SMP Negeri 2 Kota Ternate (1993), hingga menamatkan sekolah di SMA Negeri 4 Kota Ternate (1996). Semangat belajar yang tak pernah padam membawanya ke Manado, meraih gelar sarjana di Jurusan Sosiologi Fisipol Unsrat (2001), lalu melanjutkan Magister Sosiologi Pedesaan di IPB Bogor (2010).
Namun, jejak Rinto tidak berhenti di ruang kuliah. Ia pernah menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara sejak 2001, sembari aktif di LSM LEPPSEK Malut yang bergerak dalam advokasi masyarakat adat. Dari dunia akademik dan aktivisme itulah, ia menapaki dunia birokrasi.
“Motivasi saya sederhana, ingin menjadi bagian dari sistem yang memajukan kebudayaan Ternate. Dari masa lalu yang gemilang hingga warisan sejarahnya yang mendunia,” tutur Rinto kepada wartawan, Selasa (19/8/2025).
Jejak Karier Birokrasi
Karier birokrasi Rinto dimulai pada tahun 2003 di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Malut. Tujuh tahun kemudian, ia hijrah ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate, menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari Kepala Seksi Sejarah dan Kepurbakalaan, Kepala UPTD Cagar Budaya dan Permuseuman, hingga Kepala Bidang Ekonomi Kreatif.
Pada 2018, ia dipercaya menjadi Kepala Bidang Cagar Budaya, lalu Plt. Kepala Dinas Kebudayaan (2020-2021), hingga kini menjabat sebagai Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Ternate.
Setiap jabatan bukan sekadar tanggung jawab administratif, melainkan ruang pengabdian. Rinto percaya, kebudayaan harus dipandang bukan sebagai romantisme masa lalu, melainkan modal besar membangun masa depan.
“Tantangan terbesar kita hari ini adalah era transformasi digital, di mana budaya kadang hanya jadi tontonan imitasi. Padahal sejatinya, sejarah dan warisan leluhur adalah fondasi membangun bangsa,” ungkapnya.
Komitmen dan Visi Kebudayaan
Di balik kesibukan sebagai pejabat daerah, Rinto tetap memegang teguh komitmennya: membawa Ternate sebagai ibu kota kebudayaan Indonesia. Misinya terang, yakni:
- Menjadikan kebudayaan sebagai investasi dan modal membangun bangsa.
- Mengembangkan diplomasi budaya dengan dunia internasional—mulai dari VOC Heritage Network (Belanda), Wallacea Project (Inggris), hingga Magellan City Network (Spanyol).
- Menguatkan lembaga lokal, termasuk Kesultanan Ternate dan masyarakat adatnya.
- Mendukung program nasional jalur rempah dan menjadikan Ternate sebagai Kota Rempah.
Baginya, kebudayaan adalah napas identitas bangsa. Karena itu, ia meyakini diplomasi budaya menjadi kunci mempertemukan Ternate dengan dunia.
Kiprah di Luar Birokrasi
Selain birokrat, Rinto tetap aktif sebagai dosen Universitas Muhammadiyah Malut (2002-sekarang) dan IAIN Ternate (2014-sekarang). Ia juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar Kesultanan Ternate dan Ketua Lembaga Kebudayaan Rakyat Moloku Kie Raha.
Di bidang penelitian, ia pernah terlibat dalam riset bersama LIPI, IPB, hingga BI, termasuk memimpin seminar-seminar kebudayaan nasional. Jejaknya merentang dari ruang akademik, panggung seminar, hingga diplomasi budaya di tingkat nasional maupun internasional.
Menjaga Api Kebudayaan
Bagi Rinto, kebudayaan bukan sekadar masa lalu yang patut dikenang, melainkan api yang harus terus dijaga. Ia percaya, dengan kesadaran kesejarahan dan warisan peradaban, bangsa ini akan menemukan pijakan kuat untuk melangkah ke depan.
“Sejarah bukan sekadar cerita kejayaan. Ia adalah modal membangun bangsa, modal merajut masa depan. Itu sebabnya, kebudayaan harus terus kita rawat,” pungkasnya.