TERNATE, DM – Pagi itu di Desa Lelewi, Kecamatan Pulau Batang Dua, suasana masih dipenuhi jejak ketakutan. Dinding rumah yang retak, perabotan berserakan, dan raut wajah warga yang belum sepenuhnya pulih menjadi saksi bisu dahsyatnya gempa berkekuatan 7,6 magnitudo yang mengguncang wilayah tersebut.
Di tengah situasi itu, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, hadir bukan sekadar sebagai pejabat, tetapi sebagai pemimpin yang ingin memastikan rakyatnya tidak menghadapi musibah sendirian.
Didampingi Wakil Gubernur Sarbin Sehe serta jajaran Forkopimda, Sherly menyusuri lokasi terdampak, menyapa warga satu per satu, mendengar cerita mereka, dan menyerap langsung kebutuhan di lapangan.
Tak ada jarak. Tak ada sekat formalitas.
Seorang ibu paruh baya tampak menggenggam tangan sang gubernur, menceritakan kondisi rumahnya yang nyaris roboh. Anak-anak berdiri di samping, sebagian masih terlihat trauma. Sherly mendengarkan dengan penuh perhatian—sesekali mengangguk, sesekali menenangkan.
Namun di balik empati itu, ada ketegasan yang tak ditawar.
Di hadapan jajaran pemerintah daerah, Sherly langsung menyoroti hal paling krusial: data kerusakan. Ia meminta kejelasan kepada Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Musrifah Alhadar.
“Perkim sudah data rumah yang rusak? Berapa jumlahnya?” tanyanya lugas.
Baginya, bantuan tidak boleh berjalan dalam ketidakpastian. Data harus akurat, cepat, dan menjadi dasar setiap langkah kebijakan.
Gubernur memastikan, komunikasi dengan pemerintah pusat telah dibangun secara intensif. Dukungan dari Kementerian Perumahan dan BNPB terus didorong agar penanganan tidak berlarut.
Di tengah keterbatasan, harapan mulai dirajut.
Pemerintah telah menyiapkan skema bantuan yang terukur. Rumah rusak ringan hingga sedang akan mendapatkan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) senilai Rp20 juta hingga Rp35 juta. Sementara rumah yang hancur total akan dibangun kembali oleh pemerintah.
Bagi warga, ini bukan sekadar angka.
Ini adalah harapan untuk kembali memiliki tempat berteduh.
Meski demikian, Sherly tidak menutupi realitas bahwa proses pemulihan membutuhkan waktu. Ada tahapan administrasi dan verifikasi yang harus dilalui agar bantuan benar-benar tepat sasaran.
“Tidak bisa langsung selesai. Tapi kami targetkan dua minggu ke depan sudah mulai berjalan,” ujarnya dengan nada optimistis.
Di Pulau Batang Dua, gempa memang meruntuhkan bangunan. Namun kehadiran pemerintah, perhatian, dan langkah nyata yang mulai digerakkan perlahan membangun kembali sesuatu yang lebih penting—kepercayaan dan harapan.
Dari puing-puing yang tersisa, warga kini mulai melihat masa depan. Dan di tengah luka yang belum sepenuhnya sembuh, ada keyakinan yang tumbuh: mereka tidak sendiri.