Menu

Mode Gelap
STQ 2023, Haltim Ditunjuk Sebagai Tuan Rumah How To Handle Every Movie Challenge With Ease Using These Tips The Most Influential People in the Green House Industry and Their Celebrity Dopplegangers Technology Awards: 6 Reasons Why They Don’t Work & What You Can Do About It

Berita · 11 Sep 2025 05:13 WIB ·

Dari Secangkir Kopi ke Anyaman Hidup: Kisah Inspiratif Ibu An, Perempuan Tangguh dari Tidore


 Dari Secangkir Kopi ke Anyaman Hidup: Kisah Inspiratif Ibu An, Perempuan Tangguh dari Tidore Perbesar

TERNATE, DM- Di sudut sederhana Jalan Hasan Boesorie, tepat di depan sebuah ruko tak jauh dari Bank BNI Ternate, aroma kopi panas kerap menyeruak di pagi dan sore hari. Di balik gelas-gelas kopi itu, ada sosok perempuan tangguh bernama Jamian Syarif (53), yang akrab disapa Ibu An.

Sudah 25 tahun lamanya Ibu An bertahan di tempat itu, berjualan kopi, mie rebus, dan jajanan sederhana. Baginya, tempat itu bukan hanya sekadar lapak, melainkan saksi bisu perjuangannya membesarkan lima orang anak hingga kini beranjak dewasa dan memberinya lima cucu.

“Kalau bulan Ramadan biasanya saya jualan donat kentang. Orang-orang malah lebih kenal saya sebagai penjual donat daripada kopi,” ucapnya sambil tersenyum, mengenang perjalanan panjangnya kepada dimensimedia.com, Kamis (11/9/2025).

Hasil karya ibu An

Namun, di sela-sela rutinitas berdagang, Ibu An menemukan jalan lain untuk mengisi hidupnya dengan lebih bermakna. Dari tumpukan limbah plastik bekas pengikat kemasan kayu dan kabel strapping, ia melahirkan karya anyaman keranjang yang cantik dan kokoh.

Awalnya, keterampilan itu diwariskan dari orang tuanya. Ia pernah membuat tikar, lalu iseng mencoba menganyam keranjang dari bahan bekas. Siapa sangka, hobi itu kini menjadi penopang tambahan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Kalau ukuran besar, saya bisa buat empat keranjang dalam sehari. Kalau kecil, bisa lima sampai enam. Bahannya saya dapat dari toko bangunan atau ada juga orang yang sengaja antar,” tutur Ibu An.

Keranjang buatannya dijual dengan harga terjangkau, mulai dari Rp40 ribu hingga Rp100 ribu tergantung ukuran. Tak jarang, hasil karyanya laku dua buah dalam sehari, meski ada juga hari-hari sepi pembeli. Baginya, semua itu soal rezeki.

Di depan rukonya, deretan keranjang warna-warni tersusun rapi, menjadi saksi lain dari ketekunannya. Sambil menuang kopi ke gelas pelanggan setianya—tukang ojek, penjahit sepatu, hingga pekerja sekitar—tangan Ibu An tak pernah berhenti menganyam.

“Alhamdulillah, ini jadi hobi sekaligus menambah rezeki,” katanya pelan, dengan nada syukur.

Lebih dari sekadar kerajinan tangan, apa yang dilakukan Ibu An adalah kisah tentang keteguhan, kreativitas, dan cinta pada kehidupan. Ia membuktikan bahwa dari sisa-sisa yang kerap dianggap tak bernilai, bisa lahir sesuatu yang indah dan bermanfaat.

Di usianya kini, Ibu An tetap berdiri teguh. Ia bukan hanya penjual kopi di sudut jalan, melainkan perempuan yang menjahit kisah hidupnya dengan ketekunan, sambil memberi teladan sederhana bahwa hidup harus terus dijalani dengan kerja keras, doa, dan rasa syukur.

Artikel ini telah dibaca 46 kali

Baca Lainnya

Menerjang Badai di Laut Halmahera: Kisah Menegangkan Rombongan NasDem Malut Pulang dari Safari Ramadhan

16 Maret 2026 - 06:38 WIB

Ketika Helikopter Menjadi Harapan: Kisah Evakuasi Pasien dari Tobelo Menuju Manado

13 Maret 2026 - 03:36 WIB

Satlantas Polres Halteng Bagikan Takjil, Perkuat Kedekatan Polri dan Masyarakat di Ramadan

12 Maret 2026 - 08:29 WIB

Safari Ramadan, Kakanwil Ditjenpas Malut Perkuat Pengamanan Lapas di Ternate

11 Maret 2026 - 17:01 WIB

Hangatnya Ramadan di Jailolo: Safari NasDem Rajut Silaturahmi dan Tebar Kepedulian untuk Masyarakat

9 Maret 2026 - 20:17 WIB

Menanam Nilai Kebangsaan Sejak Dini, Hasby Yusuf Sosialisasikan 4 Pilar di Dua Sekolah di Ternate

9 Maret 2026 - 14:26 WIB

Trending di Berita