TERNATE, DM- Di sudut sederhana Jalan Hasan Boesorie, tepat di depan sebuah ruko tak jauh dari Bank BNI Ternate, aroma kopi panas kerap menyeruak di pagi dan sore hari. Di balik gelas-gelas kopi itu, ada sosok perempuan tangguh bernama Jamian Syarif (53), yang akrab disapa Ibu An.
Sudah 25 tahun lamanya Ibu An bertahan di tempat itu, berjualan kopi, mie rebus, dan jajanan sederhana. Baginya, tempat itu bukan hanya sekadar lapak, melainkan saksi bisu perjuangannya membesarkan lima orang anak hingga kini beranjak dewasa dan memberinya lima cucu.
“Kalau bulan Ramadan biasanya saya jualan donat kentang. Orang-orang malah lebih kenal saya sebagai penjual donat daripada kopi,” ucapnya sambil tersenyum, mengenang perjalanan panjangnya kepada dimensimedia.com, Kamis (11/9/2025).
![]()
Namun, di sela-sela rutinitas berdagang, Ibu An menemukan jalan lain untuk mengisi hidupnya dengan lebih bermakna. Dari tumpukan limbah plastik bekas pengikat kemasan kayu dan kabel strapping, ia melahirkan karya anyaman keranjang yang cantik dan kokoh.
Awalnya, keterampilan itu diwariskan dari orang tuanya. Ia pernah membuat tikar, lalu iseng mencoba menganyam keranjang dari bahan bekas. Siapa sangka, hobi itu kini menjadi penopang tambahan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Kalau ukuran besar, saya bisa buat empat keranjang dalam sehari. Kalau kecil, bisa lima sampai enam. Bahannya saya dapat dari toko bangunan atau ada juga orang yang sengaja antar,” tutur Ibu An.
Keranjang buatannya dijual dengan harga terjangkau, mulai dari Rp40 ribu hingga Rp100 ribu tergantung ukuran. Tak jarang, hasil karyanya laku dua buah dalam sehari, meski ada juga hari-hari sepi pembeli. Baginya, semua itu soal rezeki.
Di depan rukonya, deretan keranjang warna-warni tersusun rapi, menjadi saksi lain dari ketekunannya. Sambil menuang kopi ke gelas pelanggan setianya—tukang ojek, penjahit sepatu, hingga pekerja sekitar—tangan Ibu An tak pernah berhenti menganyam.
“Alhamdulillah, ini jadi hobi sekaligus menambah rezeki,” katanya pelan, dengan nada syukur.
Lebih dari sekadar kerajinan tangan, apa yang dilakukan Ibu An adalah kisah tentang keteguhan, kreativitas, dan cinta pada kehidupan. Ia membuktikan bahwa dari sisa-sisa yang kerap dianggap tak bernilai, bisa lahir sesuatu yang indah dan bermanfaat.
Di usianya kini, Ibu An tetap berdiri teguh. Ia bukan hanya penjual kopi di sudut jalan, melainkan perempuan yang menjahit kisah hidupnya dengan ketekunan, sambil memberi teladan sederhana bahwa hidup harus terus dijalani dengan kerja keras, doa, dan rasa syukur.