Editor: Arief Paturusi
TERNATE, DM- Di antara riuh suara bandara, seorang bocah kecil berdiri mematung. Namanya Athan, usianya baru lima tahun. Tangannya menggenggam erat tangan kakaknya, matanya kosong—seolah masih mencari satu wajah yang sejak kemarin tak lagi ia temui.
Ibunya, almarhumah Diana Kamaluddin, perempuan asal Makassar yang merantau ke Ternate demi menyambung hidup, telah pergi untuk selamanya.
Tak ada pelukan ibu. Tak ada bisikan lembut sebelum tidur. Yang tersisa hanya kenangan, dan sebuah perjalanan pulang yang harus ia tempuh tanpa orang yang paling ia cintai.
Merantau Berdua, Pulang Sendiri
Diana Kamaluddin datang ke Ternate bersama Athan, tanpa keluarga besar, tanpa sanak saudara. Hanya seorang ibu dan anak kecil yang menggantungkan harapan pada tanah rantau. Namun takdir berkata lain. Setelah beberapa hari dirawat di RSUD Chassan Boesorie Ternate, Diana mengembuskan napas terakhir.
![]()
Saat sang ibu terbaring lemah, Athan tak pernah jauh dari sisinya. Ia mungkin belum memahami arti “kehilangan”, tetapi ia tahu satu hal: ibunya tak lagi bangun.
Athan sebenarnya memiliki seorang kakak perempuan yang saat itu bekerja di Tobelo, Halmahera Utara. Begitu kabar ibunya kritis terdengar, sang kakak bergegas datang. Ia tiba beberapa saat sebelum ajal menjemput—cukup untuk menggenggam tangan ibunya, cukup untuk mengucapkan perpisahan terakhir.
![]()
Ketika Ternate Menjadi Keluarga
Kabar duka itu menyentuh banyak hati. Warga Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Maluku Utara, dari tingkat BPD hingga BPW, bergerak cepat. Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) Provinsi Maluku Utara dan Kota Ternate hadir dengan ketulusan seorang ibu kepada anak yang kehilangan.
Kepedulian juga datang dari Komunitas Sedekah Alif, Pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui Dinas Sosial, Pemerintah Kota Ternate melalui Dinas Sosial dan Dinas Dukcapil, Kapolres Ternate, BAZNAS Kota Ternate, Keluarga Besar LPMP Maluku Utara, Kerukunan Keluarga Maluku di Kota Ternate, serta seluruh orang baik warga Maluku Utara.
Athan saat melepas jazad ibundanya.
Di tengah duka, sebuah rumah menjadi saksi kemanusiaan. Keluarga Rinto Y.H. Sangaji, warga Kota Ternate, dengan ikhlas membuka pintu rumahnya untuk menjadi rumah duka. Di sanalah jenazah Diana Kamaluddin disemayamkan, dirawat, dan dilepas dengan penuh hormat—oleh orang-orang yang sejatinya bukan keluarga sedarah.
Air Mata di Bandara Sultan Babullah
Kamis, 8 Januari 2026, di Bandara Sultan Babullah Ternate, tangis tak lagi bisa dibendung. Ketua KKSS Kota Ternate, Andi Amir, berdiri dengan mata basah saat mengantar Athan menuju pesawat yang akan membawanya ke Makassar.
“Saya bangga dengan warga KKSS, baik BPD maupun BPW KKSS Provinsi Maluku Utara. Terima kasih tak terhingga, khususnya kepada keluarga Rinto Y.H. Sangaji yang sejak awal menjadi rumah duka. Tuan rumah luar biasa. Di sinilah letak persaudaraan—ketika warga Maluku Utara asal Pulau Makean dan warga Sulawesi Selatan saling bahu-membahu sebagai wujud kemanusiaan,” ucap Andi Amir, suaranya nyaris tenggelam oleh haru.
Athan hanya menatap sekitar. Mungkin ia mengira ibunya akan menyusul dari belakang. Tapi pintu keberangkatan tertutup, dan sejak saat itu, ia benar-benar menjadi yatim.
Pulang ke Pangkuan Kakek dan Nenek
Ketua BPW KKSS Provinsi Maluku Utara, Hi. Rajma Makka, yang turut mengantar Athan dan kakaknya ke Makassar, menyampaikan terima kasih mendalam kepada semua pihak yang setia mendampingi sejak almarhumah sakit, pemakaman, hingga malam ketiga.
“Banyak yang sayang Athan, bahkan ada yang ingin mengadopsi. Tapi bagaimanapun, keluarga almarhumah adalah yang paling berhak. Athan masih punya kakek dan nenek di Makassar. Hari ini kami hanya mengantar, selebihnya kami titipkan kepada keluarga dan kepada Allah,” tuturnya.
Setibanya di Makassar, Athan langsung dipeluk kakek dan neneknya. Pelukan yang hangat, namun tak sepenuhnya mampu menggantikan sosok ibu yang telah pergi. Seorang anak kecil kini harus belajar hidup dengan kenangan.
Sebuah Luka, Sebuah Pelajaran Kemanusiaan
Kisah Athan bukan sekadar berita duka. Ia adalah kisah tentang cinta tanpa syarat, tentang tangan-tangan yang saling menguatkan meski tanpa ikatan darah, tentang sebuah kota bernama Ternate yang menunjukkan bahwa kemanusiaan masih hidup.
Dari Ternate, Athan pulang membawa kehilangan.
Namun ia juga pulang membawa doa, cinta, dan kepedulian dari seluruh orang baik di Maluku Utara.