Menu

Mode Gelap
STQ 2023, Haltim Ditunjuk Sebagai Tuan Rumah

Berita · 24 Agu 2026 03:50 WIB ·

Dari Air Limbah Menjadi Sumber Daya: NHM Bangun Sistem Air Terintegrasi di Gosowong


 Dari Air Limbah Menjadi Sumber Daya: NHM Bangun Sistem Air Terintegrasi di Gosowong Perbesar

GOSOWONG, DIM — Di tengah aktivitas pertambangan emas yang terus berlangsung di Gosowong, Halmahera Utara, air menjadi salah satu kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan dari operasional sehari-hari.

Sekitar 5.400 meter kubik air per hari dibutuhkan untuk mendukung proses operasional di kawasan Tambang Emas Gosowong yang dikelola PT Nusa Halmahera Minerals (NHM).

Besarnya kebutuhan tersebut membuat pengelolaan air menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan operasi. Karena itu, NHM kini berupaya mengubah cara air dimanfaatkan melalui DST Water Recovery & Recycling Project.

Melalui proyek ini, air yang masih dapat digunakan kembali tidak langsung dianggap sebagai air yang terbuang. NHM mengembangkan sistem untuk mengolah dan mengembalikannya ke dalam siklus operasional.

Targetnya tidak kecil. Dari kebutuhan air proses sekitar 5.400 meter kubik per hari, NHM menargetkan efisiensi penggunaan air sebesar 20–30 persen. Angka tersebut setara dengan sekitar 1.680–1.920 meter kubik per hari.

Tahap awal proyek diarahkan untuk mengurangi penggunaan air baru pada Raw Water Mill Process. Setelah itu, perusahaan secara bertahap mengkaji peluang optimalisasi pada UG Water Consumption serta Clean Up Mill Process Area.

Untuk mewujudkan sistem tersebut, berbagai infrastruktur pendukung disiapkan, mulai dari pipeline, valve hingga fitting.

Namun, sistem daur ulang air tidak berarti seluruh kebutuhan air di Gosowong akan menggunakan air hasil olahan.

Untuk kebutuhan domestik di Camp-Office dan proses Elution (Gold Recovery), NHM masih menggunakan air sungai. Alasannya, kedua kebutuhan tersebut memiliki standar kualitas air yang harus dipenuhi.

Di sinilah sistem pengelolaan air NHM bekerja berdasarkan kebutuhan.

Air dari DST, Polishing Pond, dan RSPK dimanfaatkan sebagai satu kesatuan sistem. Air hasil olahan dari DST terlebih dahulu dialirkan ke kolam penjernihan sebelum digunakan untuk mesin penggiling utama.

Sementara pada proses yang membutuhkan air dengan tingkat kejernihan lebih tinggi, air sungai tetap digunakan sesuai standar kualitas yang dipersyaratkan.

Assistant Superintendent – DST & Water Management NHM, Yoga Mei Rizal, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut dilakukan agar setiap jenis air digunakan pada tempat yang tepat.

“Prinsip yang kami terapkan adalah menggunakan air sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kebersihannya masing-masing. Air olahan dari DST kami alirkan lebih dulu ke kolam penjernihan sebelum digunakan untuk mesin penggiling utama, karena kualitasnya belum sepenuhnya memenuhi standar yang lebih tinggi. Untuk tahap pengolahan yang membutuhkan air paling bersih, kami masih menggunakan air sungai,” jelas Yoga.

Membangun sistem tersebut tentu bukan pekerjaan sederhana.

NHM harus memperhitungkan kondisi elevasi permukaan tanah yang berbeda-beda, panjang jalur penyaluran air, kualitas air hasil olahan, hingga kapasitas fasilitas penyimpanan.

Keandalan sistem juga menjadi perhatian penting. Setiap tahapan harus dipastikan berjalan tanpa mengganggu aktivitas produksi yang sedang berlangsung.

Karena itu, penerapan proyek dilakukan secara bertahap, mulai dari perencanaan, desain teknis, pembangunan, uji coba hingga penyempurnaan sistem.

Bagi NHM, manfaat proyek ini tidak hanya berbicara mengenai efisiensi operasional. Penggunaan kembali air juga menjadi bagian dari upaya konservasi lingkungan dan pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.

Langkah tersebut sekaligus mendukung upaya NHM dalam program lingkungan PROPER Hijau.

General Manager Geology Resources & Support NHM, Denny Lesmana, mengatakan air memiliki posisi penting bagi keberlangsungan aktivitas tambang, terlebih Gosowong berada di wilayah Halmahera Utara yang memiliki karakteristik sumber daya dan kondisi geografis tersendiri.

“Air merupakan salah satu aset paling penting bagi keberlangsungan operasional tambang, terutama di wilayah seperti Halmahera Utara. Proyek ini menjadi langkah nyata NHM untuk menjaga ketersediaan air dalam jangka panjang, sekaligus mengurangi tekanan terhadap sumber air di sekitar area tambang,” ujar Denny.

Dengan dikembangkannya proyek tersebut, fungsi DST di Gosowong pun mengalami perubahan peran.

Fasilitas yang sebelumnya dikenal sebagai fasilitas pengeringan limbah tambang kini menjadi bagian dari sistem pengelolaan air yang lebih terpadu.

Bagi NHM, air yang masih dapat dimanfaatkan kembali adalah sumber daya yang perlu dioptimalkan. Karena itu, perusahaan berkomitmen untuk terus mencari peluang agar setiap tetes air yang dapat didaur ulang bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Upaya tersebut diharapkan tidak hanya membuat kegiatan operasional lebih efisien, tetapi juga memperkuat ketahanan air di Gosowong dan mendukung praktik pertambangan yang semakin bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Artikel ini telah dibaca 4 kali

Baca Lainnya

Dari Kao Barat untuk Ketahanan Pangan, NHM Perkuat Petani Lewat Pertanian Modern

20 Agustus 2026 - 03:22 WIB

Kakanwil Ditjenpas Sulbar Pimpin Upacara HUT ke-81 RI Bersama Jajaran Pemasyarakatan se-Mamuju Raya

18 Agustus 2026 - 17:23 WIB

Semarak HUT RI, DPPKB Ternate Perkuat Kekompakan

18 Agustus 2026 - 10:11 WIB

81 Tahun Merdeka, Menjaga Persatuan, Menguatkan Pengabdian

17 Agustus 2026 - 13:47 WIB

HUT RI ke-81, NHM Dorong Gosowong Maju Bersama

17 Agustus 2026 - 12:39 WIB

Bukan Sekadar Jalan Santai, Fun Walk KKSS Malut Jadi Momentum Rawat Persaudaraan di Tanah Rantau

16 Agustus 2026 - 15:54 WIB

Trending di Berita