LABUHA, DM- Pagi di Lapas Kelas III Labuha terasa berbeda pada Jumat, 14 November 2025. Di area kebun dalam lapas, delapan narapidana tampak serius menyimak bimibingan, menata bibit, dan menyiapkan pupuk. Di bawah pengawasan petugas, mereka mengikuti program pembinaan kemandirian bidang pertanian—sebuah upaya yang tidak hanya menanam sayur, tetapi juga menanam harapan.
Program yang menjadi bagian dari agenda ketahanan pangan nasional ini menjadi ruang pembelajaran baru bagi para warga binaan. Petugas memberikan arahan teknis mulai dari cara menanam hingga merawat tanaman cabai, singkong, buncis, sawi, kangkung, dan pakcoy. Setiap langkah dikerjakan dengan penuh kesungguhan, seakan menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih baik.
Kalapas Kelas III Labuha, Jumadi, menyebut kegiatan ini sebagai pendekatan pembinaan yang menyentuh langsung kebutuhan hidup. “Pertanian adalah keterampilan yang relevan. Banyak dari mereka kembali ke kampung dengan kondisi ekonomi terbatas. Jika mereka bisa bercocok tanam, itu sudah menjadi bekal penting untuk memulai hidup baru,” ujar Jumadi.
Bagi banyak narapidana, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas. Ini adalah kesempatan untuk mempelajari keahlian baru—keterampilan yang mungkin menjadi pegangan saat kembali ke tengah masyarakat. “Pembinaan ini dirancang agar mereka memiliki kemampuan yang benar-benar dapat dimanfaatkan setelah keluar nanti,” ujar seorang petugas pembinaan.
Selain bimbingan bertani, petugas juga melakukan pengecekan peralatan, monitoring berkala, serta dokumentasi perkembangan tanaman. Setiap bibit tumbuh mewakili proses pembinaan yang terus berlangsung, memberikan makna bahwa perubahan dimulai dari hal kecil.
Di balik tembok lapas, kehidupan tetap bisa tumbuh. Dan melalui kebun sederhana ini, Lapas Labuha mencoba memberi ruang bagi narapidana untuk tumbuh bersama — bukan hanya sebagai pembelajar, tetapi sebagai pribadi yang siap kembali ke masyarakat dengan keyakinan dan keterampilan baru.