Di tengah berbagai sorotan terhadap praktik pertambangan nikel di Maluku Utara, industri ini dinilai terus bergerak memperbaiki diri. Perbaikan tersebut tidak hanya terlihat dari sisi produksi dan hilirisasi, tetapi juga pada aspek lingkungan, tata kelola, serta transparansi yang kini menjadi tuntutan utama pasar global.
Pakar lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Sonny Abfertiawan, menilai perubahan tersebut tidak terlepas dari semakin strategisnya posisi nikel Indonesia dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dan agenda transisi energi dunia.
“Dulu industri lebih fokus pada produksi dan hilirisasi. Namun kini aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG ikut menjadi perhatian, karena industri nikel Indonesia sudah terhubung dengan rantai pasok global untuk kebutuhan baterai dan transisi energi,” ujar Sonny.
Menurutnya, pembeli global saat ini tidak lagi hanya melihat kualitas produk akhir. Mereka juga menaruh perhatian besar pada bagaimana produk tersebut dihasilkan. Karena itu, isu keterlacakan (traceability), emisi, pengelolaan air, monitoring lingkungan, hingga tata kelola perusahaan menjadi faktor yang semakin menentukan.
“Kondisi ini mendorong perusahaan untuk terus memperkuat pengelolaan risiko, monitoring, dan transparansi karena standar global dan ekspektasi pasar terus berkembang, sehingga kepercayaan publik tetap terjaga,” katanya.
Sonny menilai pendekatan keberlanjutan dalam industri nikel tidak dapat dipandang secara sederhana sebagai pertentangan antara kepentingan industri dan lingkungan. Realitas di lapangan jauh lebih kompleks. Industri ekstraktif memang memiliki risiko lingkungan, namun pada saat yang sama memainkan peran penting dalam pertumbuhan ekonomi dan mendukung rantai pasok transisi energi global.
“Karena itu sustainability bukan berarti tanpa risiko, tetapi bagaimana risiko terus dipetakan, dikelola, dimonitor, dan diperbaiki secara konsisten. Continuous improvement penting karena kondisi lingkungan, teknologi, dan standar global terus berkembang,” jelasnya.
Tantangan tersebut, lanjut Sonny, semakin terasa di wilayah tropis seperti Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan. Curah hujan yang tinggi dan karakteristik kawasan pesisir yang sensitif membuat pengelolaan lingkungan membutuhkan pendekatan yang adaptif dan berkelanjutan.
“Di wilayah tropis seperti Obi, sistem pengendalian air limpasan tambang harus dirancang tangguh karena kondisi cuaca bisa berubah cepat, termasuk saat hujan ekstrem. Yang penting adalah memastikan monitoring, evaluasi, dan perbaikan berjalan terus menerus agar tetap memenuhi baku mutu lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, prinsip tersebut sejalan dengan praktik pertambangan yang baik atau good mining practice yang kini semakin menjadi perhatian dunia. Standar internasional seperti Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA) dan Responsible Minerals Assurance Process (RMAP) hadir untuk mendorong perusahaan memperkuat tata kelola, transparansi, monitoring, serta pengelolaan aspek ESG secara menyeluruh.
Dalam konteks tersebut, Harita Nickel menjadi salah satu contoh perusahaan yang dinilai serius melakukan pembenahan. Perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Pulau Obi itu bahkan tercatat sebagai perusahaan pertama di Asia yang secara sukarela mengikuti audit IRMA dan RMAP+.
“Harita Nickel merupakan salah satu perusahaan yang cukup serius menerapkan prinsip good mining practice. Namun kondisi alam yang dinamis membuat perbaikan dan adaptasi tetap menjadi bagian penting dalam pengelolaan lingkungan,” kata Sonny.
Pandangan serupa juga disampaikan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kawasi, Reinhard Siar. Menurutnya, upaya keberlanjutan perusahaan mulai terlihat melalui keterbukaan informasi kepada masyarakat.
Salah satu bentuknya adalah program Jelajah Warisan Budaya yang memberi kesempatan kepada warga dan berbagai pihak untuk melihat langsung kawasan operasional perusahaan, termasuk sejumlah situs budaya bersejarah dan Danau Karo yang berada di sekitar area industri.
Bagi Reinhard, keterbukaan semacam itu penting agar masyarakat memperoleh gambaran langsung mengenai kondisi lingkungan yang sebenarnya.
“Kita saksikan langsung bahwa alam di Desa Kawasi, khususnya di sekitar Danau Karo, masih terjaga. Kondisi danaunya jernih dan kawasan di sekitarnya juga masih hijau, berbeda dengan sebagian informasi yang selama ini beredar di luar. Selain itu, danau ini juga memberi manfaat bagi daerah melalui pajak air permukaan yang dibayarkan perusahaan,” ujarnya.
Di sisi lain, Sonny menegaskan bahwa pengawasan lingkungan yang dilakukan secara berkala tetap menjadi kunci utama. Menurutnya, monitoring yang konsisten berfungsi sebagai sistem peringatan dini atau early warning system yang memungkinkan perusahaan mendeteksi potensi risiko lebih cepat dan melakukan langkah korektif sebelum dampaknya meluas.
“Industri ekstraktif memang memiliki risiko lingkungan yang kompleks, terutama di wilayah tropis seperti Maluku Utara. Karena itu yang penting adalah memastikan monitoring, evaluasi, dan perbaikan berjalan konsisten agar kepercayaan terhadap industri nikel tetap terjaga,” tutup Sonny.
Bagi banyak pihak, keberlanjutan industri nikel tidak lagi hanya diukur dari besarnya produksi atau nilai investasi yang dihasilkan. Di tengah meningkatnya tuntutan pasar global dan perhatian publik terhadap lingkungan, kemampuan industri untuk terus beradaptasi, meningkatkan transparansi, dan memperkuat pengelolaan lingkungan menjadi faktor yang akan menentukan keberlanjutannya di masa depan.