Menu

Mode Gelap
STQ 2023, Haltim Ditunjuk Sebagai Tuan Rumah

Berita · 25 Mei 2026 15:46 WIB ·

“Setelah Lulus SMA, Delapan Anak Panti Ini Kembali ke Keluarga dengan Kenangan yang Tak Akan Pernah Hilang”


 “Setelah Lulus SMA, Delapan Anak Panti Ini Kembali ke Keluarga dengan Kenangan yang Tak Akan Pernah Hilang” Perbesar

Di balik riuh peluncuran program Dinas Sosial Provinsi Maluku Utara Tahun Anggaran 2026 di Benteng Oranje, Ternate, Senin (25/5/2026), ada suasana haru yang tak terlihat dari sorotan kamera. Delapan anak dari UPTD Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Budi Sentosa dan Rumah Sejahtera resmi dikembalikan kepada keluarga mereka setelah menuntaskan pendidikan hingga jenjang SMA.

Mereka bukan sekadar anak-anak binaan. Mereka adalah anak-anak yang tumbuh dalam pelukan negara, dibesarkan dengan kasih sayang para pengasuh, setelah datang dari berbagai latar belakang kehidupan yang pahit. Ada yang yatim piatu, ada yang berasal dari keluarga sangat miskin, bahkan ada yang sejak kecil hidup tanpa perhatian yang utuh dari orang tua.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Maluku Utara, Zen Karim, mengatakan bahwa masa pengasuhan mereka kini telah selesai sesuai batas layanan yang diberikan pemerintah.

“Hari ini ada delapan anak yang masa pengasuhannya berakhir karena mereka telah lulus SMA. Selanjutnya mereka akan dikembalikan kepada keluarga masing-masing. Pemerintah memberikan santunan sesuai kondisi ekonomi mereka, termasuk biaya transportasi sebesar Rp1,5 juta untuk masing-masing anak,” ujar Zen Karim usai kegiatan launching program.

Namun bagi Kepala UPTD PSAA Budi Sentosa, Hj. Susan E. Garusim, perpisahan seperti ini bukanlah perkara mudah. Sudah lebih dari tujuh tahun ia memimpin panti tersebut. Dalam rentang waktu itu, puluhan bahkan ratusan anak datang dan pergi silih berganti. Tetapi setiap perpisahan selalu meninggalkan ruang kosong di hatinya.

Di matanya, anak-anak itu bukan sekadar penghuni panti.

“Mereka sudah seperti anak kandung saya sendiri,” ucap Susan lirih, matanya berkaca-kaca.

Ia masih mengingat bagaimana sebagian dari mereka pertama kali datang ke panti dengan wajah penuh ketakutan. Ada yang pendiam karena trauma kehilangan orang tua, ada yang sulit bergaul karena terbiasa hidup dalam kekurangan, bahkan ada yang datang dengan pakaian lusuh dan tubuh kurus karena kurang gizi.

“Mereka datang dengan luka hidup masing-masing. Ada yang menangis setiap malam karena rindu ibunya. Ada yang tidak pernah merasakan ulang tahun. Ada juga yang tidak pernah punya seragam sekolah yang layak sebelum masuk ke sini,” kenangnya.

Susan mengaku, selama bertahun-tahun dirinya bersama para pengasuh berusaha menghadirkan sesuatu yang sederhana, namun sangat berarti bagi anak-anak itu: rumah dan kasih sayang.

Mereka diajarkan bangun pagi, belajar disiplin, salat berjamaah, berbagi makanan, hingga belajar bermimpi tentang masa depan. Ia mengaku paling bahagia ketika melihat anak-anak yang dulu minder dan tertutup, perlahan mulai percaya diri berdiri di depan kelas, tampil di sekolah, bahkan berhasil menyelesaikan pendidikan.

Namun hari pengembalian anak-anak ke keluarga selalu menjadi momen paling berat.

“Kalau mereka pulang, suasana kamar terasa kosong. Biasanya ada suara mereka bercanda, minta tolong, atau hanya sekadar datang memeluk saya. Setelah mereka pergi, itu yang paling terasa,” katanya dengan suara bergetar.

Bagi Susan, panti bukan tempat menitipkan anak-anak terlantar semata. Panti adalah tempat menyelamatkan harapan.

Karena itu, ia selalu berpesan kepada anak-anak yang kembali ke keluarga agar tidak malu dengan masa lalu mereka.

“Kalian mungkin dibesarkan di panti, tetapi kalian tidak kalah dari siapa pun. Jangan pernah merasa sendiri. Di sini selalu ada orang yang mendoakan kalian,” pesannya.

Ucapan itu membuat beberapa anak yang hadir tak mampu menyembunyikan air mata. Sebagian menunduk, sebagian lain memeluk teman-temannya erat-erat. Sebab bagi mereka, PSAA Budi Sentosa bukan sekadar tempat tinggal, melainkan rumah yang pernah menyelamatkan hidup mereka.

Di penghujung acara, Susan hanya berharap satu hal sederhana: anak-anak itu bisa tumbuh menjadi manusia baik dan tidak melupakan perjuangan hidup yang telah mereka lalui.

“Saya tidak berharap mereka membalas apa-apa. Saya cuma ingin suatu hari nanti mereka berhasil, hidup layak, dan ketika ditanya mereka berasal dari mana, mereka bisa bilang dengan bangga bahwa mereka pernah dibesarkan di panti ini,” tuturnya.

Benteng Oranje siang itu tetap ramai oleh seremoni dan tepuk tangan. Namun di sudut lain, ada delapan anak yang sedang belajar menerima kenyataan bahwa rumah yang selama ini membesarkan mereka, kini harus mereka tinggalkan perlahan.

Artikel ini telah dibaca 3 kali

Baca Lainnya

Sherly Laos Gas Program Sosial 2026: UHC, Sembako Gratis hingga Bantuan Sapi

25 Mei 2026 - 09:16 WIB

HIPMI Halsel Bergabung, Dukungan untuk Rio C Pawane Kini Menjadi 6 BPC

21 Mei 2026 - 14:31 WIB

Jalan Menuju Loloda di Ambang Putus

18 Mei 2026 - 07:24 WIB

Ketika Batu dari Gosowong Sampai ke Kampus: Cara NHM Mendekatkan Dunia Tambang dengan Mahasiswa

14 Mei 2026 - 09:26 WIB

NHM Bawa “Tambang” ke Ruang Kelas UNPAD, Mahasiswa Belajar Langsung dari Batuan Gosowong

14 Mei 2026 - 09:23 WIB

Maut di Puncak Dukono

12 Mei 2026 - 01:58 WIB

Trending di Berita