Menu

Mode Gelap
STQ 2023, Haltim Ditunjuk Sebagai Tuan Rumah

Berita · 12 Mei 2026 01:58 WIB ·

Maut di Puncak Dukono


 Maut di Puncak Dukono Perbesar

Identifikasi korban erupsi Gunung Dukono memasuki babak baru. Di RSUD Tobelo, serpihan sisa raga dua warga Singapura menanti kepastian sebelum pulang—atau menetap selamanya di tanah Halmahera.

RUANG jenazah RSUD Tobelo pada Senin, 11 Mei lalu, mendadak senyap. Di sana, Bupati Halmahera Utara Piet Hein Babua berdiri mematung, menyaksikan kesibukan tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Maluku Utara yang tengah bergelut dengan waktu. Di hadapan mereka, bukan jenazah utuh yang terbujur, melainkan serpihan tulang—sisa-sisa amukan awan panas Gunung Dukono yang merenggut nyawa pada akhir pekan berdarah itu.

“Kondisinya memang tidak utuh. Dampak erupsi sangat hebat,” ujar Piet Hein dengan nada rendah kepada awak media. Bersama Wakapolda Maluku Utara, ia turun langsung memantau proses yang diperkirakan bakal memakan waktu hingga dua pekan ke depan.

Jejak yang Terhapus Abu

Tragedi ini bermula pada Minggu, 10 Mei 2026. Tim SAR gabungan harus bertaruh nyawa menembus medan sulit untuk mengevakuasi tiga korban yang terjebak dalam zona merah. Satu korban adalah warga lokal, namun dua lainnya merupakan tamu jauh dari Negeri Singa: Shahin Muhrez Bin Abdul Hamid dan Hen Wen Qiang Timothy.

Temuan tim DVI di meja identifikasi sejauh ini baru mencapai titik terang pada struktur rahang yang diduga kuat milik kedua WNA tersebut. Namun, sains tak boleh terburu-buru. “Semua masih menunggu proses resmi. Untuk sementara, sisa jenazah diamankan dengan ketat di sini,” tambah Piet.

Antara Tobelo dan Singapura

Kini, sebuah dilema menggantung di udara. Jika urusan forensik selesai, muncul pertanyaan besar: di mana raga mereka akan disemayamkan?

Keluarga Shahin Muhrez dilaporkan sudah menginjakkan kaki di Tobelo dengan duka yang mendalam. Namun, keberadaan keluarga Hen Wen Qiang Timothy masih menjadi misteri. Baik Pemerintah Daerah maupun pihak Imigrasi belum berhasil menyambungkan kontak.

Piet Hein menyatakan pemerintah daerah siap pasang badan. Jika keluarga menghendaki, Halmahera Utara bersedia menjadi rumah terakhir bagi para pelancong malang tersebut. “Kami siap memfasilitasi pemakaman sesuai agama dan kepercayaan mereka jika dipercayakan kepada kami,” tuturnya.

Peringatan dari Lereng Mamuya

Dukono memang tak pernah benar-benar tidur. Erupsi kali ini menjadi pengingat pahit bagi siapa saja yang meremehkan kegarangan gunung api di utara Maluku ini.

Bupati Piet pun tak henti-hentinya melempar peringatan keras. Ia meminta setiap pendaki, baik lokal maupun mancanegara, untuk tidak lagi “nyelonong” tanpa koordinasi. Prosedur standar kini menjadi harga mati:

  • Wajib lapor ke Dinas Pariwisata Halmahera Utara.

  • Memantau pembaruan status dari Pos Pengamatan Gunung Api Dukono (PVMBG).

  • Berkoordinasi dengan pemerintah Desa Mamuya sebagai pintu masuk utama.

Di lereng Dukono, batas antara petualangan dan maut hanya dipisahkan oleh selembar kepatuhan pada informasi. Bagi Shahin dan Timothy, informasi itu mungkin datang terlambat. Kini, yang tersisa hanyalah koordinasi diplomatik dan doa-doa yang dirapalkan di lorong rumah sakit.

Artikel ini telah dibaca 1 kali

Baca Lainnya

Menembus Kabut dan Medan Ganas Dukono, Tim ERT NHM Berpacu Menyelamatkan Korban

11 Mei 2026 - 08:11 WIB

Dua WNA Singapura Tewas di Dukono, Evakuasi Dramatis Tim Gabungan

10 Mei 2026 - 11:30 WIB

Pemandu Pendaki Dukono Terancam Pidana

9 Mei 2026 - 14:06 WIB

Satu Korban Dukono Dievakuasi

9 Mei 2026 - 13:42 WIB

Tiga Pendaki Tewas di Dukono

8 Mei 2026 - 23:22 WIB

Dulu Menimba dari Tetangga, Kini Air Bersih Mengalir di Depan Rumah Warga Kobok

7 Mei 2026 - 06:37 WIB

Trending di Berita