ilustrasi
Ternate, DM – Senin pagi yang seharusnya menjadi hari latihan seperti biasa di Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif) Cipatat, Bandung, berubah menjadi kabar duka bagi keluarga Kasiman di Kota Ternate.
M. Dehan Kasiman (19), calon Bintara TNI Angkatan Darat, yang baru saja memulai perjalanan menuju cita-cita mengenakan seragam loreng, pulang dalam peti kayu berbalut bendera Merah Putih.
Pagi itu, sekitar pukul 07.00 WIT, telepon dari pihak Pusdikif memecah suasana. “Kami dari pihak keluarga menerima informasi meninggalnya Dehan dari Pusdikif,” tutur Jimli, paman almarhum, dengan suara bergetar. Tak ada yang menyangka, pemuda sehat penuh semangat itu kini tak lagi bernapas.
Selasa (12/8/2025) pagi, Batik Air yang membawa jenazah Dehan mendarat di Bandara Sultan Babullah. Komandan Pusdikif, Brigadir Jenderal TNI Zaiful Rakhman, ikut mengawal langsung perjalanan pulang sang prajurit muda. Dari bandara, iring-iringan menuju rumah duka di RT 11 Lingkungan Jan, Kelurahan Tabona.
Di sana, suasana pecah. Tangis ibu Dehan, Nurlaila, tak terbendung. Ayahnya, Rusli, hanya terdiam memandangi peti yang kini menjadi tempat terakhir anaknya. Tetangga, kerabat, hingga pejabat datang melayat. Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman, tampak hadir memberikan dukungan moril.
Sekitar pukul 10.15 WIT, prosesi pemakaman dimulai. Langkah kaki keluarga menuju TPU Lingkungan Jan terasa berat. Mimpi Dehan untuk membela negara terhenti di tengah jalan.
Pihak Pusdikif menyebut Dehan meninggal karena sakit. Namun, keluarga berharap penjelasan lebih rinci. “Kami ingin tahu secara detail, sakit apa, dan kronologinya seperti apa,” kata Jimli. Malam ini, Brigjen Zaiful Rakhman dijadwalkan kembali menemui keluarga.
Di tengah prosesi pemakaman, doa mengalir. Ratusan pelayat melepas kepergian Dehan dengan linangan air mata. Tidak ada teriakan komando, hanya bisikan lirih doa yang memohonkan tempat terbaik bagi almarhum.
Kini, tanah Jan memeluk tubuh Dehan untuk selamanya. Cita-citanya memang terhenti, namun semangatnya akan tetap hidup di hati keluarga, sahabat, dan mereka yang mengenalnya. Sebab, menjadi prajurit tak selalu tentang mengangkat senjata di medan perang, tapi juga tentang keberanian menghadapi takdir, bahkan ketika takdir itu datang terlalu cepat.