SOFIFI, DM- Di tengah riuhnya politik daerah dan tantangan ekonomi global, Maluku Utara justru mencatat sejarah baru. Semester pertama 2025, provinsi ini menjadi juara nasional realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD), melampaui 79,81 persen dari target tahunan.
Bagi Gubernur Sherly Tjoanda Laos, capaian ini bukan sekadar angka di laporan. Ia menyebutnya sebagai “buah kerja kolektif” yang lahir dari disiplin fiskal, keberanian mengambil keputusan tidak populer, dan strategi mengunci kebocoran penerimaan.
“Pendapatan kita berjalan sesuai target. Bahkan, melampaui ekspektasi nasional. Yang terpenting, ini dilakukan tanpa mengorbankan stabilitas fiskal,” ujar Sherly, Kamis (14/8/2025).
Memasak Anggaran dengan Resep Efisiensi
Dalam dunia keuangan daerah, membesarkan PAD sambil menekan belanja sering dianggap mustahil. Namun Sherly membuktikan bahwa resep efisiensi justru bisa membuat “dapur APBD” tetap mengepul.
Data Kemendagri menunjukkan, hingga semester I, total penerimaan APBD Malut sudah 72 persen, sementara realisasi belanja baru 42 persen.
Artinya, kas daerah cukup terjaga, ruang fiskal tetap longgar, dan manuver pembangunan bisa dilakukan tanpa ketergantungan pada utang jangka pendek.
Kepala Bapenda Malut, Zainab Alting, mengurai salah satu kunci: digitalisasi pajak daerah. Dari target Rp710,04 miliar, pajak yang sudah masuk mencapai Rp587,01 miliar atau 82,67 persen—menempatkan Malut di 10 besar nasional realisasi pajak tertinggi.
“Kami tidak hanya mengejar setoran, tapi juga memperluas basis pajak, menutup celah kebocoran, dan memastikan setiap rupiah masuk ke kas daerah,” kata Zainab.
Politik Anggaran: Menahan Godaan Belanja Cepat
Banyak kepala daerah tergoda membelanjakan anggaran secepat mungkin demi citra pembangunan yang kasat mata. Namun Sherly memilih jalur berbeda: mengamankan pendapatan lebih dulu, memastikan belanja dilakukan tepat sasaran, dan menunda program yang dinilai belum mendesak.
Langkah ini tidak hanya menjaga kesehatan APBD, tetapi juga memberi ruang manuver ketika gejolak harga atau kebutuhan darurat datang di tengah tahun.
Rekor Pertumbuhan Ekonomi
Keberhasilan mengelola PAD berjalan seiring dengan prestasi ekonomi yang memukau. Pertumbuhan ekonomi Malut pada triwulan I mencapai 34,58 persen, lalu 32,09 persen di triwulan II—tertinggi secara nasional dua kuartal berturut-turut.
Sherly menyebut kombinasi eksplorasi potensi tambang, penguatan sektor perikanan, dan geliat UMKM sebagai motor pertumbuhan. Namun ia mengingatkan, euforia angka tinggi harus diimbangi dengan strategi pemerataan agar manfaatnya terasa hingga ke pulau-pulau terluar.
“Angka ini membanggakan, tapi tugas kita memastikan tidak hanya tumbuh, tapi juga merata,” tegasnya.
Menatap Sisa Tahun
Dengan sisa empat bulan menjelang tutup buku APBD, Pemprov Malut menargetkan optimalisasi PAD hingga tembus 100 persen dan menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 30 persen.
Sherly mengisyaratkan bahwa politik anggaran Malut tahun ini tetap mengutamakan tiga hal:
- Keseimbangan penerimaan dan belanja
- Prioritas program yang berdampak langsung ke masyarakat
- Kesiapsiagaan fiskal menghadapi ketidakpastian
Bagi Sherly, prestasi fiskal bukan sekadar kebanggaan daerah, tetapi fondasi kepercayaan publik. Karena pada akhirnya, setiap rupiah yang masuk ke kas daerah adalah janji untuk mengembalikannya dalam bentuk pembangunan yang bermanfaat.