MALIFUT, DM — Suasana ceria menyelimuti halaman SD Inpres Samsuma pagi itu. Anak-anak berbaris rapi, sebagian membawa buku catatan kecil, sebagian lagi terlihat penasaran dengan alat peraga yang disiapkan tim NHM Peduli. Bagi mereka, hari ini bukan hari belajar biasa — ini adalah hari belajar cara menyelamatkan diri.
Di tengah situasi geografis Maluku Utara yang rawan gempa, tanah longsor, dan potensi bencana lainnya, NHM Peduli mencoba mengajarkan hal paling mendasar namun vital: kesiapsiagaan. Dengan bahasa sederhana dan metode interaktif, anak-anak diajak mengenali tanda-tanda bencana, memahami potensi risiko di lingkungan mereka, hingga bagaimana harus bersikap ketika keadaan darurat terjadi.
![]()
Simulasi sederhana dibuat menyenangkan. Ada yang ditunjuk menjadi pemimpin jalur evakuasi, ada yang bertugas mengingatkan teman-temannya ke titik kumpul. Gelak tawa sesekali terdengar, namun ketika instruktur meminta mereka “merunduk, lindungi kepala, dan cari ruang aman,” seluruh perhatian langsung fokus.
Guru-guru menyebut kegiatan ini sebagai pembelajaran berharga yang tidak mereka dapatkan setiap hari. Sementara bagi NHM Peduli, kegiatan ini adalah bagian dari tanggung jawab sosial: membangun kesadaran sejak dini agar generasi muda di lingkar tambang tumbuh dengan pengetahuan mitigasi bencana yang memadai.
Di akhir kegiatan, para siswa tersenyum bangga sambil memamerkan sertifikat kecil bertuliskan “Siaga Bencana Sejak Dini.” Sederhana, tetapi maknanya besar — sebuah langkah kecil untuk masa depan komunitas yang lebih tangguh.