Penulis: Arief
TOLIRE, 29 Juni 2026- Tidak semua perpisahan meninggalkan kesedihan. Ada pula perpisahan yang melahirkan rasa hormat, doa, dan kenangan baik yang akan terus hidup dalam ingatan banyak orang. Itulah yang dirasakan insan pers di Maluku Utara saat melepas kepindahan tugas Drs. Said Mahdar, SH., MH., yang kini mengemban amanah sebagai Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Barat.
Bagi saya, Arief, mewakili rekan-rekan jurnalis di Maluku Utara, Pak Said bukan sekadar seorang pejabat. Beliau adalah sosok pemimpin yang memahami pentingnya keterbukaan informasi dan menjadikan media sebagai mitra dalam membangun kepercayaan publik.
Di tengah kesibukan dan tanggung jawab besar yang diemban, beliau selalu membuka ruang komunikasi yang hangat. Wartawan tidak pernah dipandang sebagai pihak yang harus dijaga jaraknya, melainkan sebagai bagian dari upaya bersama menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat.
Namun, ada satu pelajaran yang lebih besar daripada sekadar hubungan antara pejabat dan media.
Saya menyadari bahwa Pak Said adalah pemimpin yang memanusiakan manusia. Beliau tidak hanya melihat seseorang dari masa lalunya, tetapi juga percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri. Nilai kemanusiaan itu begitu membekas bagi saya dan keluarga, terlebih ketika istri saya pernah menjalani masa pembinaan di Lapas Perempuan—sebuah hal yang mungkin tidak pernah beliau ketahui.
Dari sana saya memahami bahwa sistem pemasyarakatan sejatinya bukan hanya tentang menjalankan hukuman, tetapi juga mengembalikan harapan dan martabat manusia. Dan nilai itu tercermin dari cara beliau memimpin.
Menjelang kepindahannya, ada satu kalimat sederhana yang disampaikan Pak Said kepada seluruh jajaran Pemasyarakatan Maluku Utara yang terus terngiang di benak kami.
“Jangan lupa salat.”
Kalimat yang singkat, tetapi penuh makna. Sebuah pengingat bahwa jabatan setinggi apa pun pada akhirnya harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.
Beliau juga meninggalkan satu pesan yang menggambarkan bagaimana ia ingin dikenang.
“Biarpun saya pergi dari Maluku Utara, tapi saya tidak meninggalkan luka di Maluku Utara.”
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan perpisahan. Kalimat tersebut menjadi cerminan dari perjalanan kepemimpinannya—berusaha hadir, bekerja, dan meninggalkan jejak kebaikan tanpa menyisakan permusuhan.
Kini, langkah pengabdian beliau berlanjut di Sulawesi Barat sebagai Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pemasyarakatan. Tugas baru tentu menanti, begitu pula tantangan yang lebih besar.
Atas nama insan pers Maluku Utara, kami menyampaikan terima kasih atas dedikasi, ketulusan, serta hubungan baik yang telah terjalin selama ini. Terima kasih telah menjadi pemimpin yang terbuka terhadap kritik, menghargai kebebasan pers, dan selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
Selamat bertugas di tempat yang baru, Pak Said Mahdar. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, keberkahan, dan kesuksesan dalam setiap langkah pengabdian.
Karena pada akhirnya, jabatan akan berganti, ruang kerja akan berpindah, tetapi ketulusan seorang pemimpin akan selalu tinggal dalam ingatan orang-orang yang pernah merasakannya.