GOSOWONG, DM- Di Gedung Safety Training Site Gosowong, suasana pagi 8 November 2025 terasa lebih hidup dari biasanya. Dua puluh enam peserta duduk dengan penuh perhatian, bersiap mengikuti salah satu pelatihan paling penting dalam dunia pertambangan: Pengawas Operasional Pertama (POP).
Pelatihan ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Bagi NHM, POP adalah gerbang awal untuk membentuk pengawas yang benar-benar memahami jantung operasi pertambangan—keselamatan kerja.
Saat membuka kegiatan, Denny Lesmana menegaskan makna pelatihan ini.
“Pengawas adalah garda terdepan. Tanggung jawab mereka bukan hanya soal pengawasan, tapi memastikan semua orang pulang ke rumah dengan selamat.”
Kata-kata itu menggambarkan filosofi NHM: menambang dengan aman dan bertanggung jawab.
Selama tiga hari, peserta digembleng dengan delapan unit kompetensi penting, mulai dari analisis risiko hingga manajemen keselamatan. Materi diberikan oleh Walidi S.T., M.Eng., seorang praktisi yang telah lama berkecimpung dalam pelatihan K3.
![]()
Di sela sesi pelatihan, Johny Herman Karwur, sang koordinator trainer, menegaskan pentingnya kualitas pengawas.
“Jika ingin tambang berjalan baik, pengawas harus hebat. Kompetensinya harus terukur.”
Bagi sejumlah peserta, pelatihan ini lebih dari sekadar tugas. Farid Malik Sjah, salah satu peserta, merasakan pelatihan ini sebagai kesempatan menata masa depan.
“Ini bukan hanya soal sertifikat. Ini bekal untuk melangkah lebih jauh dalam karir.”
Menjelang penutupan, wajah para peserta jelas memperlihatkan rasa percaya diri baru. Mereka pulang bukan hanya membawa sertifikat dan materi pelatihan, tetapi juga visi baru tentang bagaimana menjadi pengawas yang menjaga keselamatan pekerja, produktivitas, dan keberlanjutan operasi.
Dari Gosowong, NHM kembali menunjukkan bahwa komitmen terhadap K3 bukan slogan, melainkan tanggung jawab yang diwujudkan melalui peningkatan kompetensi SDM secara berkelanjutan.