TERNATE, DM — Pagi itu di Kota Ternate, langkah Senator DPD RI Hasby Yusuf tak berhenti pada ruang rapat formal. Dalam rangkaian agenda resesnya, ia memilih mendatangi langsung tempat-tempat di mana pelayanan publik berjalan setiap hari — sekolah, asrama haji, kampus, hingga lembaga zakat yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Reses, bagi Hasby, bukan sekadar kewajiban konstitusional, melainkan kesempatan mendengar suara daerah tanpa sekat.
Hasby Yusuf di gedubg Asrama Haji
Perjalanan dimulai di Sekolah Dasar Yayasan Al-Irsyad, Kelurahan Jati. Di ruang sederhana sekolah itu, para pengelola yayasan menyampaikan harapan tentang peningkatan fasilitas pendidikan dan keberlanjutan pembinaan generasi muda.
Hasby lebih banyak mendengar. Baginya, pendidikan adalah fondasi utama pembangunan manusia.
“Masukan seperti ini penting agar kebijakan pusat tidak jauh dari kebutuhan nyata di lapangan,” ujarnya.
Dari dunia pendidikan, langkahnya berlanjut ke Asrama Haji Maluku Utara. Di sana, ia disambut Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Maluku Utara, Muhammad Zaber Wahid, bersama jajaran.
Foto bersama Senator Hasby Yusuf dan Rektor Unkahir
Pembahasan berlangsung serius. Mulai dari rehabilitasi gedung hingga kelanjutan pembangunan kantor layanan haji di kabupaten/kota. Namun satu isu mencuat paling kuat: perlindungan jamaah dari travel haji dan umrah bermasalah.
“Kalau ada travel yang merugikan masyarakat, harus diblacklist, termasuk pihak yang terlibat di dalamnya. Ibadah tidak boleh menjadi ruang penyalahgunaan kepercayaan,” tegas Hasby.
Ia menilai fasilitas keagamaan dan tata kelola pelayanan ibadah merupakan bagian penting dari kesejahteraan sosial masyarakat.
Perjalanan reses kemudian berlanjut ke Universitas Khairun Ternate. Di kampus terbesar di Maluku Utara itu, Hasby disambut Rektor Prof. Dr. Abdullah W. Jabid. Diskusi mereka berfokus pada pembangunan masjid kampus — simbol keseimbangan antara intelektualitas dan spiritualitas mahasiswa.
“Kehadiran beliau menjadi penyemangat bagi kami agar aspirasi pendidikan bisa sampai ke pemerintah pusat,” ujar rektor.
Menjelang sore, kunjungan ditutup di Kantor Baznas Kota Ternate. Di tempat itu, suasana terasa lebih personal. Hasby menyerahkan fidyah untuk kedua orang tuanya, sebuah gestur ibadah yang sarat makna di bulan Ramadan.
Namun pertemuan tidak berhenti pada seremoni. Baznas menyampaikan realitas lapangan: keterbatasan ambulans, kendaraan operasional distribusi bantuan, serta kebutuhan penambahan program rumah layak huni bagi masyarakat kurang mampu.
“Kami berharap ada dukungan agar pelayanan zakat semakin luas menjangkau masyarakat,” kata Ketua Baznas, H. Adam Ma’rus.
Mendengar hal itu, Hasby menyatakan komitmennya membawa aspirasi tersebut ke tingkat nasional.
“Reses adalah waktu mendengar. Apa yang disampaikan hari ini akan menjadi bahan perjuangan kami di pusat agar lembaga sosial di daerah mendapat perhatian lebih,” ujarnya.
Hari itu, perjalanan reses bukan sekadar rangkaian kunjungan. Ia menjadi potret bagaimana kebijakan nasional sesungguhnya berawal dari percakapan sederhana — dari ruang kelas, tempat ibadah, kampus, hingga lembaga sosial yang setiap hari menjaga harapan masyarakat.
Di bulan Ramadan, langkah tersebut terasa lebih bermakna: menyerap aspirasi, merawat kepedulian, dan memastikan negara hadir melalui kerja nyata bagi kesejahteraan manusia.